Erupsi Gunung Bromo

Hingga kemarin (1/12) erupsi Gunung Bromo belum menunjukkan penurunan. Hujan abu vulkanik juga terus mengarah ke pemukiman. Bahkan abu yang mengarah ke pemukiman kini berubah warna. Dari sebelumnya kecoklatan kini  lebih berwarna merah pekat. Abu yang membawa materi silica itu mulai merusak sejumlah tanaman di ladang pertanian warga. 

Meski kondisi letupan abu melemah, masih menimbulkan hujan abu di sekitar daerah Gunung Bromo. Untuk pagi ini (2/12), abu Gunung Bromo mengarah ke arah tenggara atau ke Kabupaten Lumajang. Daerah di Lumajang yang terkena dampak hujan abu Gunung Bromo seperti di daerah Ranupane. 

Meski tekanan asap melemah dan aktifitas menurun, status gunung eksotik di Jawa Timur ini tetap memberlaklukan status awas. Selama pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB, terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak 1 kali dengan amplitudo maksimal 22 mm. Sedangkan tremor masih terjadi terus menerus dengan apmlitudo antara 1,5 mm hingga 6 mm. 

Saat ditanya tentang penurunan itu karena Gunung Bromo sedang menyimpan energi atau memang akan mengalami penurunan, pihaknya belum berani memastikan.

Gunung Bromo merupakan gunung eksotis di Jawa Timur dan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, sejak meningkatnya aktivitas Bromo, membuat agen perjalanan wisata enggan mengantarkan kliennya dari mancanegara menuju ke gunung yang mempunyai samudera pasir tersebut. 

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengatakan, pemerintah sudah  siap untuk menangani dampak letusan gunung Bromo. Antara  lain, saat ini sudah disiapkan tenda-tenda pengungsian di  sembilan titik bagi sekitar 20.000 jiwa yang berdomisili antara 3 hingga 10 kilometer dari kawasan gunung Bromo.

”Dari pengalaman bencana-bencana sebelumnya maka kali ini pemerintah lebih siap. Pemda setempat melaporkan sudah siap, terutama Bupati Probolinggo, Kapolres dan BPBD setempat,” kata Agung usai mengunjungi pameran dalam rangka memperingati hari AIDS Sedunia di Kemendiknas, Jakarta, Rabu (1/12).

Selain tenda, juga telah disiapkan jalur dan mobil evakuasi siaga sepanjang hari. Sedangkan untuk perlindungan sementara, masyarakat sudah dibagikan masker. Yang paling penting, kata Agung, masyarakat setempat kooperatif dan berjanji untuk mau dievakuasi jika ada tanda peringatan bahaya. Ia memastikan tidak akan ada evakuasi paksa, karena baik pemerintah pusat maupun daerah sudah bertemu serta  berdialog langsung dengan kepala desa dan tokoh adat setempat. Selain itu, sudah dilakukan  simulasi kepada masyarakat, sehingga mereka paham bagaimana menghadapi keadaan darurat.

Meskipun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan hingga saat ini tensi aktifitas gunung Bromo menurun, kata Agung, pihaknya akan terus memantau.

Untuk anggaran, lanjutnya, pemerintah masih memiliki Rp 190 milyar dana bencana yang siap dicairkan kapan pun dibutuhkan untuk tanggap darurat. Sedangkan pemda setempat sudah menyediakan sekitar Rp 50 milyar.

1 comments:

santi said...

nice post

Related post